Sabtu, 08 Desember 2012

kenakalan Remaja Menurut Perspektif Islam



KENAKALAN REMAJA
MENURUT PERSPEKTIF ISLAM
Untuk memenuhi tugas terstruktur
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Indrya Mulyaningsih, M.Pd
NIP : 19760902 2011012009


Disusun Oleh Kelompok 4 :

1.      Anikah
2.      Bustomi
3.      Ima Nurnaimah
4.      Intan Triana chintiyatmi
5.      Khaerul Anam
6.      Nunung Nurhasanah
7.      Sulthon Irofi’
8.      Taniah
9.      Zakiyatun Nisa


PAI C / Tarbiyah / Semester 1

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYEKH NURJATI CIREBON
2012



PENDAHULUAN

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدَّيْنُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS ar-Rum : 30).
Nakal adalah gejolak jiwa dalam diri manusia tatkala manusia mempunyai keinginan besar untuk mencapai sesuatu sesuai kemauan, perasaan, dan, pemikiran  hingga terciptanya karakter yang bernilai relatif akan sifatnya. Karakter atau tingkah laku seperti sedih, senang, marah, gelisah, dan, berkeluh kesah  manusia tak bersumber pada suatu faktor penyebab yang tunggal, tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah fungsi cipta (reason), rasa (emotion), dan karsa (will). Ketiga fungsi jiwa ini harus seimbang agar tercipta karakter yg mutmain (tenang) atau positif. seimbang atau tidaknya ketiga fungsi ini,sangat berpengaruh pada pembentukan karakter manusia.
Pada diri manusia terdapat kebutuhan pokok selain kebutuhan jasmani dan rohani , yakni kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwa agar tak mengalami tekanan. Melalui agama, kebutuhan-kebutuhan itu dapat disalurkan. Dengan melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar.
Untuk menghindari dampak negatif dari sifat nakal, seharusnya manusia sadar diri siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan untuk apa dia hidup. Agar sifat nakal yang dimiliki bisa di arahkan kesesuatu yang sangat positif dan insya allah jika dilakukan dengan dzikir,sabar,dan tawakal akan berdampak positif. Anehnya kebanyakan manusia tak menyadarinya karna kurangnya pengetahuan dan keimanan kepada sang pencipta, sehingga manusia tidak mengetahui seseatu yg mangat mendasar yang melekat pada dirinya atas fitrah sang pencipta yaitu nikat ruhani, jasmani, dan jiwa.
A.    Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian remaja?
2.      Apa faktor  yang menyebabkan kenakalan pada remaja?
3.      Bagaimana pandangan Islam terhadap kenakalan remaja?
B.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian remaja.
2.      Mengetahui faktor yang menyebabkan kenakalan pada remaja.
3.      Mengetahui pandangan Islam terhadap kenakaln remaja.

PEMBAHASAN
1.      Pengertian Remaja dan Kenakalan Remaja
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja, baik luar dan dalam, akan membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja.[1] Remaja juga bisa dikatakan sebagai  masa yang  berada di antara kanak-kanak dan masa dewasa yang matang, yaitu masa dimana individu tampak bukan anak-anak lagi, tapi ia juga tidak tampak sebagai orang dewasa yang matang, baik pria maupun wanita.
Sedangkan kenakalan remaja itu sendiri menurut Kartini Kartono menjelaskan bahwa juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakaln anak-anak muda. juvenile delinquency merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Hendaknya remaja mengetahui bahwa kehidupan ini dalam segala sisi yang telah ditetapkan oleh hukum Allah, dan dihadapan kita ada sumber mendasar yang dapat kita rujuk ketika kita berselisih yaitu Al-Qur’an dan sunnah; bahwa persoalan apapun yang dialami manusia, pertama-tama harus kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.[2]
Jiwa remaja yang berada dalam transisi dari masa anak-anak menuju kedewasaan maka kesadaran beragama pada masa remaja berada dalam keadaan peralihan, disamping keadaan jiwanya yang labil dan mengalami kegoncangan, daya pemikiran abstrak, logik dan kritik mulai berkembang. Emosinya semakin berkembang, motivasinya mulai otonom dan tidak dikendalikan oleh dorongan biologis semata. Keadaan jiwa remaja yang demikian nampak dalam kehidupan agama yang mudah goyah, timbul kebimbangan, kerisauan dan konflik batin. Remaja mulai menemukan penhalaman dan penghayatan ke-Tuhanan yang bersifat individual dan sukar digambarkan kepada orang lain.
Kegiatan ibadah seperti sholat, puasa, dan berdoa kepada yang mulanya hanya meniru tingkah laku orang tuanya atau karena diperintahkan kepadanya, lambat laun semakin di hayati dan di laksana kan dengan kesungguhaan. Ia betul-betul mencari keridhaan Allah dan memohon pertolongan–Nya dalam menghadapi berbagai kesukaran yang timbul dalam dirinya sendiri atau dari lingkungan. Peningkatan rasa ke-Tuhanan  dalam hubungan emosional yank di perkuat dengan ikatan moral akan dapat menumbuhkan penilaian, bahwa kebaikan tertinggi adalah mengikuti perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Sedangkan kejahatan terbesar adalahg durhaka kepada Allah dan mendustai agama. Akhir nyasi anak berusaha menyesuaikan dirinya dengan ajaran dan kehendak Tuhan .
Hendaknya remaja dibimbing untuk selalu mengajukan suatu pertanyaan kepada dirinya dalam semua tindak tanduknya. Sering kita jumpai salah satunya anak-anak remaja melakukan perbuatan kekerasan seperti penganiayaan dan pembunuhan. Pada hakikatnya perbuatan tersebut melanggar nilai-nilai yang terpuji, kasih sayang perlakuan dan penyantunan.[3]

2.      Faktor Penyebab Kenakalan  Remaja
a.       Faktor Internal
b.      Faktor Eksternal
Faktor  penyebab kenakalan remaja sangatlah banyak, diantaranya adalah :
a.       Faktor internal meliputi:
1)      Persoalan Pribadi Remaja
Setiap orang tidak mampu menghadapi hal-hal yang sulit baginya untuk mengatasinya, seperti persoalan yang menyangkut dirinya sendiri.
Persoalan-persoalan pribadi pada permulaan pertumbuhannya rumit  dan ini merupakan bagian dari kepribadian remaja, boleh jadi pengalaman pertama yang ditemui remaja pada masa kanak-kanaknya merupakan batu-batu pertama dalam pondasi yang diatasnya dibangun perasaan mahligai kepribadian.
Sisi kelemahan yang sebenarnya, mempengaruhi pandangan manusia terhadap dirinya sendiri. Maka persoalan kepribadian bagi remaja yang ditimpa suatu kelemahan atau cacat, mungkin sebagian besarnya disebabkan oleh sikap anak-anak lain terhadapnya. Terkadang pada remaja yang bodoh timbul beberapa persoalan kepribadian, karena masyarakat menuntut kepadanya lebih besar dari pada kemampuannya. Bantuan terhadap anak-anak yang seperti itu agar dapat merasa serasi dan aman, adalah pekerjaan yang menantang kesungguhan, karena sangat sedikit yang dapat diperbuat bagi orang-orang cacat, bahkan barangkali tidak mungkin.[4]

2)      Krisis Identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
a)      Terbentuknya perasaan konsistensi dalam kehidupannya.
b)      Tercapainya identitas peran.
3)      Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak dapat mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima dapat terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, tetapi tidak dapat mengembangkan control diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.[5]
b.      Faktor Eksternal meliputi :
1.      Konflik antara kebutuhan untuk mengendalikan diri dan kebutuhan untuk bebas dan merdeka.
2.      Konflik antara kebutuhan akan kebebasan dan kebutuhan akan ketergantungan kepada orang tua.
3.      Konflik antara kebutuhan seks dan ketentuan agama serta nilai sosial.
4.      Konflik antara prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipelajari oleh remaja ketika ia kecil dulu dengan prinsip dan nilai yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungannya dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan sekolah turut berperan membentuk perilaku remaja.
5.      Lingkungan sekolah yang dapat memengaruhi perilaku anak, antara lain kondisi sekolah yang tidak memenuhi persyaratan, guru yang tidak pandai mengelola KBM (kegiatan belajar mengajar), dan petugas-tugas yang terlalu banyak. Selain itu faktor lingkungan sekitar meliputi tempat tinggal remaja dan teman bergaul, turut menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.[6]

3.     Kenakalan Remaja Menurut Perspektif Psikologi Islami
A.    Pengertian Nakal
Menurut ahli hikmah dan para pakar kejiwaan, nakal adalah gejolak jiwa dalam diri manusia tatkala manusia mempunyai keinginan besar untuk mencapai sesuatu yang dilakukan dengan kegoisan dalam mewujudkan keingingannya sesuai cipta, rasa, dan karsa manusia. Hingga terciptanya tipologi manusia yang nilanya relatif akan sifatnya. Tingkah laku seperti sedih, senang, marah, gelisah, berkeluh kesah, dugem, mabuk-mabukkan itu adalah dampak dari kenakalan yang menemui jalan buntu dalam mewujudkan keinginannya hingga berujung ungkapan jasmani yg tidak kita sadari bahkan sampai berujung pada pelampiasan dan penyimpangan sosial. Dampak semua itu tak bersumber pada suatu faktor penyebab yang tunggal, tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah fungsi cipta (reason), rasa (emation), dan karsa (will).
Pada diri manusia terdapat kebutuhan pokok selain kebutuhan jasmani dan rohani, yakni kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwa agar tak mengalami ketidak seimabangan jiwa. Dengan meningkatkan kecerdasan spiritual emosional dan inteltual melalui agama, kebutuhan-kebutuhan itu dapat disalurkan. Dengan melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar.
“Fa-aqim wajhaka li-ddiini haniifan fithratal-lahillatii fatharannaasa 'alaihaa laa tabdiila likhalqillahi dzalikaddiinul qai-yimu walakinna aktsarannaasi laa ya'lamuun”
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. _(QS ar-Rum : 30).

4.      Kronolgis Kejiwaan Pada Usia Remaja
Sifat nakal hampir di miliki oleh semua usia baik pada usia kanak-kanak, remaja, bahkan dalam usia dewasapun masih ada yang nakal. Pada usia remaja manusia sangat rentan sekali akan terjadinya dampak negatif dari kenakalan, adanya  rasa keingin tahuan yang tinggi pada usia remaja inilah awal dari tingkat kenakalan yang tinggi, sangat rentan sekali berdampak negatif pada tingkah laku remaja yang akan mengarahkan ke penyimpangan perilaku bahkan sosial.
Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja, remaja  juga dihadapkan pada tugas-tugas yang berbeda dari tugas dan kewajiban pada masa kanak-kanak. Sebagaimana diketahui, dalam setiap fase perkembangan, termasuk pada masa remaja, individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Apabila tugas-tugas tersebut berhasil diselesaikan dengan baik, maka akan tercapai kepuasan, kebahagian dan penerimaan dari lingkungan. Keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas itu juga akan menentukan keberhasilan individu memenuhi tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.
Hurlock (1973) memberi batasan masa remaja berdasarkan usia kronologis, yaitu antara 13 hingga 18 tahun. Menurut Thornburgh (1982), batasan usia tersebut adalah batasan tradisional, sedangkan aliran kontemporer membatasi usia remaja antara 11 hingga 22 tahun.
            Perubahan sosial seperti adanya kecenderungan anak-anak pra-remaja untuk berperilaku sebagaimana yang ditunjukan remaja membuat penganut aliran kontemporer memasukan mereka  dalam kategori remaja. Adanya peningkatan kecenderungan para remaja untuk melanjutkan sekolah atau mengikuti pelatihan kerja (magang) setamat SLTA, membuat individu yang berusia 19 hingga 22 tahun juga dimasukan dalam golongan remaja, dengan pertimbangan bahwa pembentukan identitas diri remaja masih terus berlangsung sepanjang rentang usia tersebut.
            Pada umumnya manusia itu terdapat kebutuhan pokok selain kebutuhan jasmani dan rohani, yakni kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwa agar tak mengalami tekanan. Unsur-unsur kebutuhanya anatara lain :
1.      Kebutuhan rasa semangat untuk memacu manusia dalam beraktifitas. Baik dengan motifasi eksternal maupun internal.
2.      Kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang yang dalam bentuk negatifnya dapat dilihat dalam kehidaupan sehari-hari, misalnya: mengeluh, mengadu, menjilat kepada atasan nya mengambinghitamkan orang lain. jika hal itu tak terpenuhi akan menimbulakan gejala psikosomomatis, misalnya, hilang nya nafsu makan, pesimis, keras kepala, kurang tidur, curiga, mengganggu, membela diri, mengunakan jimat.
3.      Kebutuhan akan pengetahuan merupkan kebutuhan yang mendorong manusia untuk selalu mencari tau sesuatu yang belum ia  ketahui. Ketidak tahuan akan menyebabkan rasa minder, mungkes, pasif, berkeluh kesah dalam menjalankan aktifitas.
Untuk menghindari dampak negatif dari kenakalan remaja, seharusnya manusia sadar diri siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, dan untuk apa dia hidup. Agar sifat nakal yang dimiliki bisa di arahkan pada sesuatu yang sangat positif dan insya allah jika dilakukan dengan dzikir, sabar, dan tawakal, akibatnyapun akan berdampak positif,  jiwapun akan tentram walau banyak tugas dan kewajiban yang harus dikerjakannya. Anehnya kebanyakan manusia tak menyadarinya karna kurangnya pengetahuan dan keimanan kepada sang pencipta, sehingga manusia tidak mengetahui seseatu yg sangat mendasar yang melekat pada dirinya atas fitrah manusia yaitu nikmat ruhani, jasmani, dan, jiwa. Ketiga nikmat ini yakni ruh, jiwa, dan, raga harus diseimbangkan dengan iman agar tercipta karakter yg mutmainah.
“Alladziina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bi dzikrilLaahi alaa bi dzikrilLaahi tathma-innul quluub”.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat-ingat Allah-lah hati menjadi tenteram." – (QS.13:28)[7]

PENUTUP

Kesimpulan

1.      Nakal adalah ketidak seimbangan antara ketiga unsur dalam jiwa yang mebuat akal terpana dan perasan cemas karna tidak tercapainya kebutuhan yang di inginkan jiwa. yang akan berdampak pada perilaku jasmaniah atau sering di sebut dengan gejala psikosomomatis. Misalnya, hilang nya nafsu makan, pesimis, keras kepala, pemarah, kurang tidur.
2.      Unsur – unsur dalam jiwa yaitu :
a.       Kemauan / cipta ( spiritual )
b.      Perasaan / rasa ( emosional )
c.       Pemikiran / karsa ( intelektual )
3.      Kebutuhan pokok dalam kehidupan jiwa ada tiga antara lain :
a.       Kebutuhan rasa semangat.
b.      Kebutuhan rasa aman dan kasih sayang.
c.       Kebutuhan rasa ingin tahu.




[1] Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat. “Remaja Harapan dan tantangan” hal.8
[2]
Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A. “Psikologi perkembangan”. hal.170
[3]
Drs. H. Abdul Aziz ahyadi. “Psikologi agama”. hal.42-43
[4] H.H.Remmers, Hacket. “Memahami Persoalan Remaja”. hal.51-53
[5] Prof. Dr. Bandi Delphie, M.A. “Psikologi perkembangan”. hal.174
[6] Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat. “Remaja Harapan dan tantangan” hal.60-62
[7] Beck, rawlins. “psikologi marah”. Hal.15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar